Indonesia

Distemper

Expand All
  • Pada kasus distemper, gejala pertama yang muncul beberapa hari setelah terjadi infeksi  biasanya berupa demam yang berlangsung sesaat. Demam tersebut kemudian diikuti dengan demam lanjutan yang akan berlangsung lebih lama lagi  yang disertai dengan munculnya gejala lainnya.
    Umumnya anjing akan memiliki kekebalan parsial yang berasal dari induk atau dari paparan virus. Anjing yang mempunyai kekebalan parsial, bila terinfeksi biasanya hanya akan tampak sedikit lesu, terkadang mata dan hidung juga berair serta batuk. Anjing-anjing inilah yang justru akan menyebarkan penyakit ke anjing lainnya yang tidak memiliki perlindungan.

  • Tipe pernafasan : ditandai dengan kesulitan bernafas, ingusan, bersin dan batuk – kemungkinan disebabkan infeksi sekunder oleh bakteri. 
    Tipe pencernaan : gejalanya adalah muntah dan diare.
    Tipe kulit : ditandai dengan penebalan kulit di hidung dan telapak kaki (sehingga dinamakan hard pad disease).
    Tipe saraf : berupa kedutan dan paralisa alat gerak (chorea), terkadang juga disertai dengan batuk tertahan yang disebabkan oleh kerusakan saraf. Pada bentuk ini, biasanya tahap awal penyakit berlangsung tanpa sepengetahuan pemilik.
    Tipe ocular : muncul gejala konjungtivitis (mata berair) dan perubahan lainnya pada mata yang tidak terlalu kentara.

  • Penyakit ini disebabkan oleh virus Canine Distemper. Virus ini utamanya menyerang anjing, tapi di Eropa hewan lain seperti rubah dan ferret bisa juga terjangkit. Virus distemper berkerabat erat dengan virus measles. Umumnya penularan terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi. Virus terdapat di mata dan lendir dari hidung yang kemudian bisa menyebar melalui udara. Hewan terinfeksi akan menyebarkan virus selama beberapa bulan. Meski virus relatif tidak stabil di lingkungan, tapi bisa menempel di baju dan terbawa hingga akhirnya menulari hewan yang tidak terproteksi. Penyebaran bisa terjadi dengan sangat cepat di kelompok anjing terutama dalam jumlah besar (seperti di kennels dan dog show), oleh karena itu vaksinasi sangat penting untuk pencegahan.
    Sama dengan Canine Viral Hepatitis, sumber wabah biasanya berasal dari anak anjing yang terinfeksi. Anjing-anjing yang tidak divaksin dan anjing-anjing yang kekebalan tubuhnya jelek memiliki resiko tinggi tertular penyakit distemper. Awalnya, virus akan menyerang sistem pernafasan, namun selanjutnya organ-organ lain juga akan terkena dampak, termasuk otak.

  • Meski sulit di diagnosa secara pasti, dugaan biasanya disimpulkan berdasarkan gejala klinis dan berbagai uji. menggunakan sampel darah atau sekresi dari hidung dan mata. Namun sayangnya tidak ada uji yang betul-betul bisa diandalkan dan bisa memberikan diagnosa yang tepat.

  • Tidak ada obat terhadap virus distemper, terapi biasanya dilakukan untuk mengatasi infeksi sekunder oleh bakteri dengan memberikan antibiotik. Terapi suportif untuk mengatasi gejala yang timbul seperti diare dan muntah juga penting untuk diberikan. Hewan terinfeksi wajib diisolasi dan semua tindakan harus dilakukan secara higienis untuk mencegah penyebaran penyakit. Namun sayangnya pada hewan yang telah menunjukan gejala saraf.  terapi yang diberikan kadang tidak berhasil dan prognosa penyakit menjadi buruk.

  • Pencegahan adalah dengan vaksinasi. Vaksin distemper wajib diberikan pada vaksinasi pertama di anak anjing, dan seringkali disertakan pada vaksinasi ulangan rutin. Bila terjadi wabah penyakit, tindakan pencegahan berupa isolasi ketat dan tindakan higiene harus segera dilaksanakan

Informasi Kontak

Talavera Suite, 19th Floor Unit 05-06
Jl. Letjen TB. Simatupang Kav. 22-26
Cilandak, Jakarta Selatan 12430
Indonesia
Jakarta Selatan 12430 .
Zoetis.Indonesia@zoetis.com
Phone : +622130052400 Fax: +6565125096