Indonesia

RABIES

Rabies merupakan penyakit virus yang sangat serius dan bisa menyerang semua hewan berdarah panas termasuk manusia. Infeksi biasanya terjadi akibat gigitan oleh hewan penular dan virus akan menyebabkan peradangan di otak (ensefalitis akut). Tidak ada pengobatan bagi hewan yang terinfeksi dan begitu gejala klinis muncul, biasanya akan berakhir fatal.
Lebih dari 27.000 kasus rabies pada hewan di seluruh dunia dilaporkan tiap tahunnya. Pada manusia, sekitar 55.000 orang diperkirakan meninggal setiap tahun akibat penyakit ini, dimana sebanyak 24.000 nya berasal dari Afrika.
Di Indonesia, kasus rabies masih ditemukan pada daerah tertentu. Bila menemukan hewan terduga terinfeksi rabies baik masih hidup atau sudah mati, disarankan untuk tidak menyentuhnya, Segera laporkan ke Dinas Peternakan setempat.

Expand All
  • Gejala klinisnya sangat beragam dan umumnya akibat peradangan di otak (ensefalitis). Meski rabies bentukannya bermacam-macam, biasanya akan muncul 3 tahap yang khas. Tidak semua hewan terinfeksi akan melalui semua tahapan tersebut.

    1. Tahap prodromal biasanya berlangsung 1-3 hari, dimana pada masa itu hewan akan mengalami :
      • Demam
      • Menjilat atau menggigiti area luka gigitan
      • Pupil mata berdilatasi/membesar
      • Menjadi gugup
      • Tampak gelisah
      • Bersembunyi
      • Ketakutan
    2. Tahap eksitasi biasanya berlangsung selama 1-7 hari, dimana pada masa itu hewan akan mengalami :
      • Reaksi berlebihan terhadap adanya rangsangan suara atau visual.
      • Eksitasi berlebihan
      • Menghindari cahaya
      • Menyerang benda imajinatif
      • Koordinasi menurun
      • Agresif dan berusaha menggigit apapun yang ada didekat mulutnya
    3. Tahap paralisa biasanya berlangsung 2-4 hari. Tahap ini muncul antara 1-10 hari setelah munculnya gejala awal. Tahap ini dapat terjadi tanpa tahap eksitasi atau setelahnya (umum di kucing). Hewan akan mengalami :
      • Ketidakmampuan menelan, sehingga akan berliur-liur
      • Perubahan suara
      • Rahang bawah tampak jatuh (jarang pada kucing)
      • Nafas sesak
      • Lumpuh dan kematian akibat tidak bisa bernafas, biasanya terjadi pada 2-4 hari kemudian.
  • Virus Rabies termasuk ke dalam golongan Lyssavirus. Virus ini terdapat banyak di air liur hewan yang terinfeksi sehingga memudahkan transmisi melalui gigitan. Virus akan masuk ke tubuh hewan melalui luka gigitan dan bereplikasi di jaringan otot untuk kemudian berjalan ke jaringan saraf tulang belakang dan otak. Di otak, virus kemudian menyebabkan peradangan (ensefalitis). Masa inkubasi virus ini sekitar 3-6 minggu. Semua hewan berdarah panas bisa tertular penyakit ini, meski masing-masing jenis memiliki tingkat kerentanan yang berbeda-beda.

  • Diagnosa biasanya disimpulkan berdasarkan gejala klinis yang ada. Semua hewan yang menunjukan gejala saraf secara tiba-tiba dan kondisinya memburuk dengan cepat harus dicurigai terhadap rabies. Diagnosa hanya bisa dikonfirmasi secara post mortem dengan uji laboratorium untuk melihat keberadaan virus di otak.

  • Tidak ada penanganan/pengobatan pada hewan yang telah terinfeksi rabies. Hanya bisa dilakukan tindakan pengendalian penyakit melalui vaksinasi pada hewan peliharaan dan satwa liar untuk pencegahan secara efektif. Semua hewan yang diduga terjangkit virus harus dikarantina dan euthanasia dengan pengawasan ketat untuk meminimalisir resiko penyebaran penyakit. Jaringan otak dari hewan setelah mati kemudian diperiksa di laboratorium untuk konfirmasi diagnosa.

  • Vaksinasi sangat efektif dalam mencegah infeksi.

Informasi Kontak

Talavera Suite, 19th Floor Unit 05-06
Jl. Letjen TB. Simatupang Kav. 22-26
Cilandak, Jakarta Selatan 12430
Indonesia
Jakarta Selatan 12430 .
Zoetis.Indonesia@zoetis.com
Phone : +622130052400 Fax: +6565125096