Indonesia

INFEKSI KULIT PADA KUCING

Penyakit kulit pada kucing bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari luka akibat trauma dan gigitan hingga parasit (termasuk pinjal, jamur dan tungau) atau infeksi sekunder oleh bakteri pada kasus alergi (akibat gigitan pinjal, alergi udara/lingkungan, alergi makanan).

Pola hidup, jenis kelamin, dan ras kucing mempengaruhi tingkat resiko terhadap berbagai masalah kulit. Kucing yang diperbolehkan keluar rumah memiliki resiko lebih besar terkena infestasi parasit eksternal seperti pinjal, dan lebih beresiko terhadap luka-luka akibat berkelahi dengan kucing atau hewan lainnya. Apalagi pada kucing jantan yang tidak dikebiri, biasanya cenderung lebih agresif dan mudah mengalami luka gigitan akibat berkelahi yang akan memicu timbulnya abses. Abses merupakan salah satu penyebab utama terjadinya penyakit kulit pada kucing-kucing yang dibawa berobat ke dokter hewan.

Gejala umum penyakit kulit pada kucing di antaranya adalah menggaruk berlebihan, menjilati atau menggigiti bulu di area kulit yang sakit, kemerahan dan bengkak di kulit, alopesia akibat bulu rontok, kulit kasar, berkerak, dan berketombe, dan ada kebengkakan atau benjolan di kulit.

Kulit merupakan bagian terluas dari tubuh kucing, dimana kurang lebih ¼ dari berat tubuh merupakan kulit. Kulit memberikan pertahanan tubuh dari lingkungan luar, membantu mencegah masuknya agen berbahaya seperti bakteri, jamur, tungau, serangga dan virus.

Expand All
  • Infeksi bakteri di kulit umumnya bersifat sekunder terhadap trauma, biasanya disebabkan oleh abses akibat luka gigitan. Mulut kucing mengandung bakteri berbahaya dan saat menggigit mereka juga memasukan bakteri tersebut ke dalam kulit yang terluka. Luka tersebut akan meradang dan dalam beberapa hari bakteri berlipat ganda jumlahnya dan menyebabkan kebengkakan berisi nanah.

  • Kucing bisa mengalami reaksi alergi terhadap berbagai hal, termasuk pinjal, zat-zat yang terhirup (jamur, serbuk sari dan debu), contact dermatitis yang disebabkan karena kulit bersentuhan/terkena bahan-bahan yang bersifat iritativ (misal sabun, perabot rumah tangga, bahan-bahan kimia, bulu dan bahkan kalung anti kutu) atau bisa juga akibat jenis makanan tertentu. Alergi biasanya sangat gatal dan bisa menimbulkan infeksi sekunder di kulit.
    Flea Allergic Dermatitis (FAD) merupakan penyakit alergi kulit yang paling sering terjadi pada kucing. Penyakit ini muncul ketika kucing alergi terhadap air liur  pinjal. Satu gigitan pinjal saja bisa menimbulkan rasa gatal yang amat sangat, kadang memicu kerontokan bulu dan keropeng di kulit (disebut milliary dermatitis).

  • Sangatlah penting untuk mengetahui jenis bakteri yang terlibat pada kasus infeksi kulit agar terapi antimikroba yang diberikan bisa tepat. Untuk itu dokter hewan akan mengambil sampel dan memeriksa dengan mikroskop bahkan jika perlu dilakukan uji kultur dan sensitivitas untuk menentukan jenis bakterinya.

Informasi Kontak

Talavera Suite, 19th Floor Unit 05-06
Jl. Letjen TB. Simatupang Kav. 22-26
Cilandak, Jakarta Selatan 12430
Indonesia
Jakarta Selatan 12430 .
Zoetis.Indonesia@zoetis.com
Phone : +622130052400 Fax: +6565125096