Indonesia

Internal dan Eksternal Parasit

PENYAKIT PARASIT MENGGANGGU KESEHATAN, REPRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS

Penyakit parasit pada sapi dapat mempengaruhi kesehatan, reproduksi, pertumbuhan dan produktivitas. Pada kasus yang parah, penyakit parasit dapat menyebabkan kematian. Penyakit-penyakit ini disebabkan oleh cacing di internal (cacing gilig, cacing pita dan cacing pipih) sebagaimana pada antropoda di eksternal (kutu, tungau, caplak dan lalat). Cacing ditularkan melalui ingesti per oral atau penetrasi ke dalam kulit secara langsung  oleh larva parasit di padang rumput. Penularan antropoda adalah melalui kontak langsung (kutu dan tungau) atau terpapar oleh larva di padang rumput (caplak) atau terbang ke dalam oleh lalat dewasa atau penetrasi oleh larva lalat (belatung)

 Etiologi

  • Sapi dapat terpapar oleh berbagai macam parasit. Cacing gilig dan antropoda memiliki siklus hidup langsung (tanpa ada inang antara), tetapi cacing pipih memiliki siklus hidup tak langsung dimana adanya inang antara merupakan keharusan.

 Gejala Klinis

Gejala klinis umum pada infeksi cacing adalah bulu yang kasar, diare, kekurusan, penurunan berat badan, dan/atau kehilangan darah. Gejala klinis parasit eksternal adalah kerontokan bulu (tungau), keropeng (kutu), benjolan pada punggung (belatung) atau kehilangan darah (lalat, kutu penghisap dan caplak) dan penurunan bobot badan.

 Diagnosis

Adanya infestasi parasit internal cacing gilig dapat didiagnosa melalui pemeriksaan telur atau larva pada feses dari hewan hidup. Pada hewan yang telah mati, cacing dapat dilihat dari abomasum, usus, paru-paru dan hati. Sedangkan untuk parasit eksternal, diagnosa didapatkan dengan observasi visual, kerontokan bulu atau kerokan kulit.

Perhitungan telur cacing gilig pada feses hanya dapat diandalkan 4 mingggu setelah terpapar parasit tersebut. Hal ini disebabkan hewan terpapar cacing terus menerus sehingga jumlah cacing dan telur cacing pada feses meningkat dalam jangka waktu 3-4 bulan. Pada umumnya di kawanan sapi, terdapat 3 kelompok hewan:

  • Kelompok yang tidak pernah memiliki jumlah cacing atau telur cacing yang tinggi (10-15%)
  • Kelompok yang memiliki jumlah cacing dan telur cacing yang moderat (60-70%)
  • Kelompok yang memiliki jumlah cacing dan telur cacing yang tinggi (10-15%)

Setelah 4 bulan, jumlah telur menurun pada kelompok kedua, namun jumlah cacing tidak menurun setelah 4-6 bulan berikutnya. Pada kelompok ketiga, jumlah telur cacing tidak menurun pada 4-6 bulan kemudian dan jumlah cacing menurun pada 4 bulan selanjutnya.

Salah satu genus, Ostertagia, tidak pernah dikontrol oleh sistem kekebalan dan dapat melanjutkan produksi telur setelah jangka waktu di atas.

Jumlah telur tidak dapat dipercaya karena kedua mekanisme tersebut.

Sebagai tambahan, kita tidak dapat menghitung cacing yang belum dewasa.

Intinya, memprediksikan beban cacing, menghitung efikasi atau melakukan pengobatan berdasarkan jumlah telur merupakan hal yang tidak dapat diandalkan.

Diagnosa  cacing pipih pada sapi dapat dilakukan dengan menghitung telur pada feses atau pengamatan hati atau abomasum pasca kematian.

Deer fluke tidak dapat memasuki saluran empedu. Oleh sebab itu tidak ditemukan telur pada feses. Diagnosa hanya dapat dilakukan pasca kematian melalui pengamatan di hati.

Pengobatan

Cara terbaik untuk penangan kecacingan adalah dengan melakukan perawatan sejak awal periode infeksi cacing gilig/lalat atau kutu dengan menggunakan produk berdurasi panjang (long acting) untuk mengeliminasi cacing gilig atau parasit antropoda dan mencegah reinfeksi pada hewan jika hewan hidup di lingkungan dimana hewan terpapar infeksi.

Sapi yang dipelihara di kandang sebaiknya diberikan pengobatan terlebih dahulu untuk membersihkan dari infeksi kutu/tungau atau dengan memberikan pengobatan terhadap kawanan di kandang tersebut sebelum memasukkan hewan yang baru dengan menggunakan antiparasit eksternal atau internal.

Pencegahan

Untuk parasit internal, pemeliharaan sapi dilakukan pada tanah yang kering dan atau lahan yang subur. Pencegahan terhadap kutu atau tungau dapat dilakukan dengan cara mengkarantina hewan dan mengobati infeksi sebelum memasukkan hewan ke kawanan. Pada sapi yang dikembangkan di lahan rumput secara permanen, pengobatan dilakukan saat awal masa merumput dengan menggunakan endecticide (antiparasit eksternal dan internal). Anakan sapi yang bebas cacing dipelihara di lahan yang bebas larva sebelum memasuki fase dewasa.

Dampak Ekonomis

Data menunjukkan bahwa infeksi lalat tanduk pada sapi yang parah dapat menurunkan 0,049  kg per hari, sementara itu infeksi kutu penghisap yang parah dapat menurunkan hingga 0,045 kg per hari.

Data menunjukkan bahwa sapi yang bebas cacing pipih mengalami kenaikan bobot badan tambahan sebesar 0,09 kg per hari pada feedlot dibandingkan sapi yang terinfeksi cacing pipih (baik yang diobati maupun sebelum dimasukkan).

Data mengindikasikan bahwa anakan, atau stockers atau feeder yang terinfeksi cacing gilig internal pada pada rumput permanen atau pada feedlot terjadi penurunan bobot 0,045 sampai 0,22 kg per hari tergantung dari tingkat keparahan infeksi, ketersediaan pakan dan status kekebalan pada hewan.

Informasi Kontak

Talavera Suite, 19th Floor Unit 05-06
Jl. Letjen TB. Simatupang Kav. 22-26
Cilandak, Jakarta Selatan 12430
Indonesia
Jakarta Selatan 12430 .
Zoetis.Indonesia@zoetis.com
Phone : +622130052400 Fax: +6565125096