Indonesia

METRITIS

Metritis merupakan peradangan pada uterus (kantung uterus dan seluruh dinding uterus),  dimana umumnya disebabkan oleh infeksi bakterial.

Faktor resiko infeksi uterus diantaranya retensi plasenta, higienitas yang buruk pada lingkungan saat melahirkan, kembar, kesulitan melahirkan dan transisi pakan yang buruk. Retensi plasenta merupakan faktor predisposisi yang penting pada kasus infeksi uterus.¹

Metritis ditandai adanya perbesaran uterus secara abnormal,  is characterised by an abnormally enlarged uterus, lendir uterus yang purulen ataupun berair berwarna merah kecoklatan dan dapat diasosiasikan dengan gejala klinis sistemik (penurunan produksi susu, kusam atau gejala toxaemia lainnya, serta demam >39,5 ᵒC. Hal ini dapat berlangsung dalam 21 hari setelah melahirkan, namun biasanya terlihat dalam 10 hari pertama setelah melahirkan. ²

Metritis memiliki tingkat keparahan yang berbeda. Umumnya kita membagi metritis  dalam 1 sampai 3 dimana tingkat 1 adalah ringan dan 3 merupakan parah.²

Dereksi lendir purulen pada lendir uterin terjadi >21 hari setelah melahirkan dan diklasifikasi sebagai endometritis klinis. Lapisan terdalam pada uterus tidak dipengaruhi oleh endometritis.

Metritis memiliki keparahan yang lebih jika dibandingkan dengan endometritis dan memerlukan pendekatan yang berbeda untuk pengobatannya.

Metritir membuat sapi lebih rentan terhadap ketosis, abomasum salah letak dan penyakit pasca kelahiran lainnya serta dapat menyebabkan terganggunya fertilitas – baik sementara maupun permanen –bahkan, jarang sekali terjadi dapat mengakibatkan kematian.

Penyebab

Uterus pada sapi biasanya terkontaminasi seketika setelah melahirkan dengan berbagai bakteri yang berasal dari permukaan hewan dan lingkungan, tetapi hal ini tidak selalu berhubungan dengan penyakit klinis ² . Perkembangan penyakit uterus tergantung dari respon kekebalan sapi, sebagaimana terhadap spesies dan jumlah ataupun tantangan dari bakteri.

Proses eliminasi kontaminasi tergantung dari involusi uterin, regenerasi endometrium dan mekanisme kekebalan uterin.

Biasanya, 25-40% kasus endometritis klinis terjadi dalam 2 minggu setelah melahirkan, dan penyakit ini berlangsung persisten hingga 20% pada hewan sebagai endometritis klinis. Bakteri yang berhubungan dengan penyakit ini adalah Escherichia coli, Arcanobacterium pyogenes, Fusobacterium necrophorum  dan Prevotella sp ¹.

Gejala

Beberapa lendir uterin yang terjadi 2 minggu setelah melahirkan merupakan gejala normal dari involusi dan evakuasi uterus yang sehat. Namun ketika adanya bau busuk dan demam menyertai adanya lendir vagina yang berair, metritis biasanya penyebabnya.

Selain adanya lendir, gejala yang menyertai di antaranya demam, penurunan nafsu makan, dehidrasi, depresi dan penurunan produksi susu.

Diagnosa

Kegunaan dari pencatatan kematian bayi saat dilahirkan, kembar, retensi membran fetus, distokia dan hipokalsemia dapat membantu mengidentifikasi hewan terhadap resiko dari penyakit uterus, namun tidak memberikan diagnosa spesifik ².

Metoda diagnosa penyakit uterus yang umumnya digunakan adalah dengan mengeluarkan isi mukus dari vagina secara manual untuk diperiksa dengan menggunakan sarung tangan bersih yang telah dilubrikasi, setelah sebelumnya diseka menggunakan handuk kertas yang bersih. Pilihan lainnya adalah  dengan menggunakan vaginoscopy untuk melihat pergerakan mukus keluar dari cervix, atau dengan menggunakan suatu instrumen yang dapat mengeluarkan isi vagina1.

Pengobatan

  • Perawatan yang tepat dengan antibiotik sistemik berspektrum luas dimana dapat penetrasi ke dalam uterus yang terinfeksi dan aktif melawan metritis bakterial.
  •  Prostaglandins
  • Penanganan suportif: terapi rehidrasi, NSAIDs, propulene gylcol, etc

Pencegahan

Kemajuan kecil telah terjadi melalui pengendalian atau pencegahan dari retensi plasenta atau penyakit uterin. Namun, berdasarkan pengertian saat ini mengenai penyakit-penyakit ini, tujuan utama adalah mendukung dan menjaga imunitas alami sapi untuk menurunkan resiko terhadap peradangan dan kontaminasi yang tidak diduga setelah melahirkan dimana dapat menimbulakan metritis³.

Manjemen untuk Menurunkan Insiden Metritis:

  • Manajemen transisi sapi yang tepat
  • Fasilitas melahirkan yang bersih dan kering
  • Sanitasi saat membantu kelahiran

Dampak Ekonomis

Metritis dapat menimbulkan efek yang mendalam pada performa sapi dan laba keuntungan, dimana penyakit tersebut dapat menyebabkan:

  • Memperpanjang masa terbuka, disebabkan oleh konsepsi dan rata-rata deteksi estrus yang lebih rendah
  • Biaya inseminasi lebih tinggi yang disebabkan servis inseminasi buatan menjadi berulang kali
  • Meningkatkan tingkat culling,  menghasilkan biaya penggantian lebih tinggi
  • Biaya lebih besar untuk intervensi veteriner

 

 

Referensi:
1. I. Martin Sheldon, Erin J. Williams, Aleisha N.A. Miller, Deborah M. Nash, Shan Herath. Uterine diseases in cattle after parturition. The Veterinary Journal 176, 115–121. 
2. I. Martin Sheldon,, Gregory S. Lewis, Stephen LeBlanc, Robert O. Gilbert (2006) Defining postpartum uterine disease in cattle. Theriogenology 65, 1516–1530. 
3. Stephen Leblanc (2012), Integrating metabolic and reproductive health in dairy cows. Keynote Lecture- XXVII World Buiatrics Congress, Lisbon.

Informasi Kontak

Talavera Suite, 19th Floor Unit 05-06
Jl. Letjen TB. Simatupang Kav. 22-26
Cilandak, Jakarta Selatan 12430
Indonesia
Jakarta Selatan 12430 .
Zoetis.Indonesia@zoetis.com
Phone : +622130052400 Fax: +6565125096